Sunday, August 29, 2010

"Bung Karno Arek Suroboyo"

Thank you for using rssforward.com! This service has been made possible by all our customers. In order to provide a sustainable, best of the breed RSS to Email experience, we've chosen to keep this as a paid subscription service. If you are satisfied with your free trial, please sign-up today. Subscriptions without a plan would soon be removed. Thank you!
"Banyak di antara kita yang tidak mengetahui bahwa semangat perjuangan dan jiwa seni Sang Pemimpin Besar Revolusi Indonesia, Soekarno (Bung Karno) adalah juga `Arek Suroboyo` (pemuda asal Kota Surabaya)," kata Peneliti dan pengajar di Universitas Trisakti Jakarta, Yuke Ardhiati.

Yuke mengatakan bahwa setiap bulan Juni dan Agustus, hampir dapat dipastikan "ruh Soekarno" hadir di bumi Indonesia.








"Bulan Juni menjadi bulan khusus baginya (hari kelahirannya), bulan Agustus adalah bulan diproklamasikan kemerdekaan bagi bangsa Indonesia," katanya di acara Seminar Pelurusan Sejarah Tempat Kelahiran Bung Karno yang digelar di Balai Pemuda Surabaya, Sabtu.

Menurut dia, si Arek Suroboyo itu telah lama "Kondur Sowan ing Ngarsaning Gusti Allah" (berpulang ke Rahmatullah atau wafat, red), namun suaranya yang menggelegar di setiap kesempatan menyapa rakyatnya, masih selalu bergema menggaungkan resonansi di setiap sudut hati.

Eksplorasi Yuke untuk mengungkapkan semangat "Arek Suroboyo" yang terpantul dari jiwa Soekarno, diterapkan dalam teori arketipe tentang konsep diri dari gagasan Carl Gustav Jung.

Arketipe, sebagai refleksi sifat dominan dari karakteristik manusia. Dalam diri Soekarno tertanam gabung dari berbagai arketipe yaitu "mother", "hero" dan "mona" berpadu sekaligus.

"Soekarno memiliki sifat menyerupai rahim ibu. Sebagai penyedia sebuah kehadiran, ada semangat patriotik. Namun sekaligus memiliki daya pesona yang luar biasa dari dirinya," paparnya.

Pengalaman dan kebiasaan Soekarno sejak usia muda, kata dia, dijelaskan dalam lima hal, yakni timangan (kekudangan orang tua), kecintaan terhadap unsur air, menolak nuansa kolonialisme, cinta romantisme terhadap negara, citra kemegahan budaya Jawa Kuno.

"Dan terakhir pemuda berjiwa patriot," katanya.

Dalam semua punulisan biografi Soekarno sebelum tahun 1970, semuanya menulis Bung Karno lahir di Surabaya.

Akhir tahun 1900, R.Soekani Sosrodiharjo (ayahanda Soekarno) dipindahtugaskan dari Singaraja Bali sebagai guru sekolah rakyat Sulung, Surabaya.

Di Surabaya itulah istrinya, Nyoman Rai Srimben melahirkan seorang putera yang diberi nama Kusno yang kemudian menjadi Soekarno pada 6 Juni 1901.


anas arema 28 Aug, 2010


--
Source: http://anasarema.blogspot.com/2010/08/bung-karno-arek-suroboyo.html
~
Manage subscription | Powered by rssforward.com